Keep On Writing ..
bilik ekspresi sayaArchive for August, 2008
Kupat Tahu “Pak Pangat”

kupat tahu enakkk
Huhuhuhu ..
Ada-ada saja nih, masa masih di tanah orang malah kepengin makan macem-macem. Saya pengin makan kupat tahu, mana ada disini ? Eh ada sih, tapi rasanya ngga seenak dan sekhas yang ada di Magelang
By the way, kupat tahu itu apa sih ?
Hehe .. Kupat tahu itu makanan khas Magelang ( eh sok ngaku-ngaku, bener ngga sih ?! ), ya paling ngga, kupat tahu adalah makanan yang paling banyak dicari oleh orang yang berkunjung ke ibukota eks Karisidenan Kedu ini. Seperti namanya, kupat tahu ya terdiri dari kupat ( ketupat ) dan tahu, kalau di Jakarta ya semacam Ketoprak lah, dengan bumbu kacang yang lebih kental dan cenderung lebih manis.
Ada satu warung kupat tahu yang legendaris banget, yaitu Tahu Pojok, yang lokasinya ngga jauh dari Aloon Aloon Kota Magelang. Bahkan Bapak SBY hobinya bernostalgia ke warung sederhana itu setiap kali berkunjung ke Magelang. Tapi entah ya, bagi saya pribadi, rasa kupat tahu kepunyaan “Tahu Pojok” ngga begitu nyanthel di lidah, terlalu manis, jadi saya jarang sekali njajan di “Tahu Pojok”. Pilihan saya ketika pengin kupat tahu ya di “Pak Pangat”, menurut saya, inilah kupat tahu yang paling yummy
Kenapa diberi nama kupat tahu “Pak Pangat” ?
Ya jelas, karena yang punya bernama Bapak Supangat
Letaknya mudah dicari juga, ngga jauh dari pusat kota, tepatnya di Jalan P. Diponegoro. Cukup strategis, karena lokasi ini ngga jauh dari pintu masuk tempat wisata Taman Kyai Langgeng. Anda bawa kendaraan pribadi ? Uhm, dari pusat kota Magelang, lurus saja, ikuti Pecinan sampai Akademi Militer, perhatikan kanan jalan, pertigaan pertama berbeloklah sampai ketemu perempatan. Nah, warung kupat tahu idola saya itu ada di dekat perempatan itu. Sementara dengan kendaraan umum juga ngga susah, karena warung milik Bapak yang berusia 48 tahun ini dilewati angkutan jalur 1, 5 dan angkutan pedesaan jurusan Magelang-Kalinegoro. Gampang kan ?! Jika Anda mau berkunjung kesana, saran saya jangan terlalu siang, karena bakal ramai sekali, dipenuhi orang-orang yang hendak makan siang. Apalagi tempat yang tersedia hanyalah warung semipermanen yang tidak terlalu luas, jadi selain berkeringat karena cabe di kupat tahu pesanan Anda terlalu banyak, Anda juga akan berkeringat karena kepanasan.
Yuk, berlanjut ke kupat tahu eksotis itu ( haduh, istilah saya berlebihan ngga ya ? ) ..
Kupat tahu “Pak Pangat” istimewa karena racikannya yang istimewa. Istimewanya dimana ? Kacang yang digunakan di setiap porsi hampir 3 kali lipat di tempat-tempat lain, buanyakkk !! Yang khas lagi, Pak Pangat mempunyai jurus ulek-bumbu-langsung-di-piring. Kata Beliau, dengan cara seperti ini, semua bumbu menempel di piring, tanpa ada yang tertinggal di cobek, jadi aroma dan rasa tiap bumbu ngga berkurang. Hal-hal yang unik lagi :
1. Kecap yang dipakai adalah racikan sendiri, bukan kecap merek B***o atau A*C. Jadi bener-bener menciptakan rasa khas Pak Pangat banget lah.
2. Dalam racikannya ada kubis alias kol, dimana sayuran berwarna putih semi hijau itu dicelup di minyak panas sebelum dicampur dengan kupat, tahu dan kawan-kawannya itu, tapi cuma sebentar, ngga ada satu menit. Hasilnya, aromanya kok jadi beda ya ? Entah rahasia apa yang diselipkan Pak Pangat di minyak panas itu. Hehe ..
3. Yang paling beda dari kupat tahu lainnya, kupat tahu “Pak Pangat” ini ada bakwan-kering-renyah-dan-enak yang dicampurkan bersama kupat, tahu dan teman-temannya itu.
Hasilnya ??
Inilah kupat tahu paling enak yang pernah saya rasakan. Setiap kali pulang kampung, saya selalu menyempatkan untuk mengunjunginya. Rasanya yang legit namun tidak terlalu manis itulah yang menjadikan kupat tahu ini nagih. Jadi datanglah ke kupat tahu “Pak Pangat”, rasakan betapa enak racikan keluarga Pak Pangat itu hanya dengan Rp. 5.000 per porsinya ( udah naik belum ya ?? ) Dan saya jamin Anda pasti ingin kembali lagi karena ketagihan. Hehe ..
Magelang, never ending walking-walking and eating-eating. Hayah ..
Ketep Pass
Tiba-tiba saya teringat Ketep ..
Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan “ketiba-tibaan” yang datang itu. Saya harus menulisnya, saya tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja, hanya sebatas ada di angan saya saja. Maka inilah Ketep Pass dari sudut pandang saya.
Ketep Pass, entah sudah berapa kali saya mendatanginya, saya lupa, tapi saya tidak pernah bosan. Karena tempat ini selalu menawarkan sensasi berbeda di setiap kunjungan saya.
Sebenarnya apa sih Ketep Pass ?
Adalah sebuah bukit setinggi 1200 mdpl yang masuk wilayah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, yang disulap menjadi panggung pertunjukan megah dan agungnya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan jajaran pegunungan Menoreh, yang setia memagari Kota dan Kabupaten Magelang.
Letak Ketep Pass tidak jauh dari pusat kota Magelang, hanya berkisar 25 km saja. Kalau bergerak dari Kota Magelang, sekitar 10 km arah Selatan di kiri jalan, Anda akan menemui perempatan besar bernama Blabak, berbeloklah ke kiri dan ikutilah jalan raya itu, sampai kurang lebih sejauh 16 km dengan track yang semakin lama semakin menyempit, berliku dan menanjak. Namun jangan khawatir, kondisi jalan sudah sangat baik hingga aman untuk dilalui oleh kendaraan jenis apapun. Anda juga tidak perlu khawatir tersesat, petunjuk ke arah objek Ketep Pass telah dipasang besar-besar oleh Pemkab Magelang.
Ketep Pass diresmikan pada tanggal 17 Oktober 2002 oleh Presiden Megawati sebagai salah satu pendukung jalur wisata SOSEBO atau Solo Selo Borobudur. Fungsi awal Ketep Pass adalah gardu pandang, mengingat letaknya yang sangat pas untuk memandang jajaran gunung-gunung yang menjadi “mahagelang” bagi Magelang. Dari tempat ini, Merapi terlihat begitu dekat dari jangkauan tangan, bersanding dengan Merbabu. Keduanya serasa saling melengkapi dan menggambarkan adanya keseimbangan, dimana Merapi selalu meletup-letup dengan keaktifannya, sementara Merbabu tenang dan damai dengan rimbun hutannya. Selain itu, Sumbing, Sindoro dan Menoreh juga terlihat anggun dari bukit Ketep ini, sementara di tengahnya terhampar lembah Magelang yang hijau dan ditandai dengan sebuah bukit kecil bernama Tidar.
Seiring berjalannya waktu, Ketep Pass terus berbenah, tidak hanya gardu pandang saja yang diandalkan disini. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun sebuah fasilitas yang diberi nama Volcano Theatre, yaitu sebuah teater pemutaran film tentang sejarah dan perjalanan keaktifan Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di dunia itu. Kemudian, terdapat juga fasilitas alat teropong yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk mengamati puncak Merapi, memang tidak gratis, namun biaya sewanya pun tidak terlalu mahal.
Sebuah Museum contoh batuan dan foto-foto Merapi pun terdapat di dalam areal Ketep Pass ini. Di dalamnya, pengunjung dapat mendapatkan informasi menarik mengenai kegunungapian. Yang menarik, di bagian atas objek wisata ini, terdapat sebuah ruang terbuka yang disebut dengan Pelataran Panca Arga. Di pelataran ini, Anda dapat mengarahkan diri pada 5 puncak gunung ( Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Slamet ) dan mengetahui dengan pasti berapa ketinggiannya. Bahkan jika cuaca mendukung, Anda dapat mengamati sendiri kelima gunung tersebut, termasuk Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah, yang letaknya begitu jauh dari Kabupaten Magelang.
Lelah berkeliling ? Silahkan menikmati jagung bakar yang disediakan banyak pedagang di sekitaran objek gardu pandang ini. Jangan khawatir ketika Anda membutuhkan kamar kecil atau mushola, semua tersedia dan layak untuk digunakan. Dua hal yang perlu saya sarankan, pertama, berkunjunglah ke Ketep Pass pada pagi hari, karena itulah saat yang paling baik untuk memandang keangkuhan dan keanggunan Merapi. Pagi hari, belum banyak kabut dan awan yang menutupi pandangan Anda menikmati “bleger” Merapi. Kedua, jika Anda bukan orang yang terbiasa dengan hawa dingin, bawalah jaket untuk menghangatkan tubuh, karena suhu di Ketep Pass cukup menyengat kulit dengan dinginnya.
Oh ya, jika masih ada waktu berlebih, lanjutkan perjalanan menuju air terjun Kedung Kayang dan Gardu Pandang Selo yang terletak tidak jauh dari Ketep Pass. Tidak kalah indah. Hanya saja, Anda harus berkuat-kuat diri berjalan kaki, karena lokasi air terjun Kedung Kayang tidak bisa ditempuh dengan kendaraan, sekalipun motor.
Itu saja. Sekali berkunjung, saya yakin Anda pasti ingin datang kembali. Aura Merapi akan memaksa Anda untuk merasa rindu memandanginya lagi.
Primitive Neuroectudermal Tumor
Primitive Neuroectudermal Tumor atau disebut juga PNET ..
Butuh banyak kekuatan untuk menuliskan semua ini, karena keganasan penyakit inilah yang merenggut Bapakku tercinta dari sisi kami, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Tapi saya pikir, orang perlu tau tentang PNET, sangat sedikit website berbahasa Indonesia yang memiliki informasi tentangnya.
Bismillah, semoga berguna ..
Primitive Neuroectodermal Tumor adalah jenis tumor langka yang bermula di dalam sel dari primitive neural crest, terjadinya translokasi resiprokal ( keadaan saling menghilangkan ) antara kromosom 11 dan 22 dan efek dari biokimia & oncogene ( protein yang mengandung gen, dimana gen tersebut diindikasikan memiliki partisipasi dalam pembentukan dan memperkuat serangan kanker ).
Beberapa jenis PNET terjadi di otak, sementara jenis yang lain terjadi di bagian luar otak, misalnya extremities, pelvis dan chest wall. Bila PNET terjadi di otak, dia akan tumbuh di otak kecil ( cerebral cortex ) dan di pineal gland atau pineoblastoma, yaitu kelenjar endokrin kecil yang berada di otak belakang. Sementara, jika terjadi di luar otak ( peripheral ), PNET merupakan Ewing Family, yang meliputi tumor tulang dan extraosseus Ewing tumor ( tumor yang tumbuh di luar tulang ).
Gejala PNET biasanya kurang dapat dicermati oleh masyarakat awam. Gejala yang muncul tergantung dari ukuran dan letak tumbuhnya tumor. PNET mengakibatkan tekanan yang berlebihan di dalam kepala, efek awalnya penderita akan mengalami sakit kepala, mual dan muntah. Pada tingkat berikutnya, gejala yang muncul adalah tubuh melemah, gangguan ingatan, gangguan penglihatan dan kehilangan keseimbangan.
PNET dapat didiagnonis melalui 2 tahapan, yang pertama dengan melakukan pemeriksaan kebiasaan penderita yang memungkinkan menjadi pemicu tumbuhnya tumor dan pemeriksaan fisik penderita. Kemudian, langkah kedua adalah dengan melakukan CT Scan atau MRT Scan.
Kemudian, operasi atau pembedahan merupakan jalan pertama yang ditempuh untuk melakukan perawatan pada penderita PNET. Perawatan selanjutnya adalah dengan melakukan terapi radiasi atau penyinaran.
PNET dalam sudut pandang saya memang merupakan penyakit yang kejam, penyakit yang tidak memberikan kesempatan bagi penderitanya untuk melawan. Waktu itu, pada otak Bapak saya terdapat 3 buah tumor, dimana yang paling besar berada di sekitar otak belakang, yang terus menekan batang otak. Awalnya Bapak hanya kehilangan ingatan parsial, kemudian badan melemah, keseimbanganpun menurun drastis. Dan dalam waktu tidak sampai satu bulan, PNET merenggut kesadaran Bapak. Tumor itu begitu cepat tumbuh, sampai usaha operasi juga dilakukan, tapi ternyata tidak mengurangi keganasannya. Yang ada kesadaran Bapak semakin menurun, selama kurang lebih 5 hari di ICCU, hidup Bapak tergantung sepenuhnya pada alat bantu kedokteran, bahkan untuk bernafaspun harus disokong ventilator. Batang otaknya mati ditekan penyakit bernama Primitive Neuroectodermal Tumor. Hingga akhirnya perjuangan Bapak harus berhenti di hari ke 6 di ICCU, Beliau meninggal dengan tenang di Hari Kamis, 24 April 2008, pukul 14.45 di ICCU RS Bethesda Yogyakarta.
Perjuangan Bapak dan perjuangan kami sekeluarga melawan PNET memang harus terhenti saat itu. Tapi tidak untuk orang lain. Orang lain harus tahu tentang penyakit langka ini, jadi ketika ada gejala yang serupa bisa segera ditangani dan bisa meminimalisasi resiko di belakangnya. Untuk itulah saya menuliskan semua ini. Maaf jika ada kekurangan dan kesalahan, mohon dibenarkan, maklum saya bukan orang kedokteran. Saya hanya ingin berbagi, memudahkan pencarian informasi.
Semoga berguna.
Langkah Pertama
Wah, akhirnya saya terprovokasi juga untuk menjejakkan kaki di ranah WordPress ini. Bukannya dunia Multiply mulai membosankan, saya hanya ingin membiarkan jari-jari saya menari lagi di atas keyboard dan kemudian hasilnya bisa dibaca banyak orang. Ngga tau, saya bener-bener cinta nulis sekarang. Apa saja, sebisa mungkin pasti akan saya abadikan ke dalam tulisan. Tapi bukan tulisan kaya dulu yang lebih ke fiksi, sekarang saya cenderung suka yang real-real saja lah .. Hehe ..
Uhm .. Cukuplah langkah pertama ini.
Nanti-nanti, saya akan lebih sering menata rumah saya ini, dengan catatan-catatan kecil tentang segala sesuatu yang saya jumpai di dunia nyata.
Semoga, saya dan kalian semua nyaman di rumah baru ini.
Memang, untuk mencapai puncak dibutuhkan beratus-ratus langkah, tapi yang menjadi penting adalah bagaimana kita membuat langkah pertama. Ya ?
